29 September 2026

Seperempat Hari Menjelajah Eropa

Belum lama ini saya berkesempatan menghadiri European Day of Languages 2026 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kampusnya cukup luas juga ternyata. Beberapa bagian sedang direnovasi. 


Sebagai seseorang yang punya ketertarikan pada bahasa, acara ini sangat menarik perhatian saya. Lagi pula ternyata bisa sekalian menyegarkan kenangan masa-masa studi di Eropa, di mana keberagaman bahasa adalah kenyataan yang dihadapi setiap hari.


Setiap meja perwakilan negara senantiasa dipenuhi para pengunjung yang antusias mengenal dan mempelajari bahasa serta hal terkait seperti budaya. 


Meja pertama yang saya sambangi adalah Georgia. Saya tertarik dengan keindahan aksaranya yang seperti mantra, yang ternyata punya tiga variasi bentuk. Salah seorang perwakilan lalu menuliskan nama saya dalam aksara Georgia. Selain bahasa, budaya dan negaranya juga dibahas. 


Meja kedua saya beralih ke Rumania. Ibu di sana mengambil pendekatan memperkenalkan alfabet Rumania serta cara pelafalannya. 


Berikutnya saya ke meja Italia. Saya mereset ulang kemampuan bahasa Italia saya lalu berlatih menyebutkan nama dan usia saya. 


Finlandia mengambil pendekatan yang agak berbeda. Mereka menyajikan daftar kata-kata Finlandia yang sama tapi maknanya berbeda dengan bahasa Indonesia. Perempuan yang berjaga di sana ternyata seorang linguis, jadi ada sempat asupan ilmiah tentang bahasa ini. 


Di Swedia saya sedikit memamerkan kemampuan saya dengan menjawab dalam bahasa Viking ini. Budaya Swedia juga diperkenalkan di sini seperti kebiasaan Fika dan beberapa kue khas Swedia seperti Semla.


Meja Portugal mengajak pengunjung mengenal tokoh-tokoh Portugal. Tentunya ada tokoh yang kita kenal melalui pelajaran sejarah seperti Ferdinand Magellan dan Afonso de Albuquerque. Baru tahu Nelly Furtado dari Portugal. 


Setiap meja bukan cuma memamerkan brosur atau suvenir, tapi para penjaganya sangat interaktif mengajak pengunjung berkenalan, belajar sapaan lokal, hingga memahami keunikan linguistik negara mereka. Meski tiap meja punya pendekatan berbeda, semuanya berhasil merangkul pengunjung untuk mengenal lebih dalam bahasanya masing-masing. 


Puncak keseruan sore itu ditutup dengan kuis interaktif menggunakan Kahoot yang menguji wawasan seputar bahasa-bahasa di dunia, geografi, dan keunikan budaya Eropa. Jari-jari harus bergerak cepat memilih jawaban di layar ponsel sambil berkejaran dengan peserta lain. Begitu skor akhir dihitung, voila! Saya berhasil finish di urutan ke-4 dan dihadiahi suvenir dari panitia. Lumayan, pembuktian kalau otak masih encer buat urusan trivia bahasa!


Beberapa negara punya bahasa lokalnya sendiri seperti Katalan atau Basque. Sayangnya saya malah tidak mampir ke meja Spanyol. 


Alangkah menarik jika ada even yang memfasilitasi berbagai bahasa dunia. Tapi siapa yang bisa menyelenggarakannya ya? Kemendikbud? Kemenlu?


Sampai jumpa tahun depan. Arrivederci, hej då!

 

 

12 Agustus 2023

Dua Negara, Tiga Kota


 ¨Man can live under any climate if he will only adapt himself to its requirements and conditions.¨ 

(Jose Rizal)

 

Soekarno Hatta, September 2021.

 

Takut.

Terus terang itu hal yang terus singgah di benak saya menjelang keberangkatan kuliah di Eropa. Tapi di situlah seninya perjalanan. Melangkah saja. Maka kamu akan melewatinya juga. Ternyata.

 

Mungkin karena pikiran ke mana-mana, saat menuju ruang tunggu, koper kabin saya tertinggal setelah melewati imigrasi. Biasanya saya hanya bawa ransel ke kabin.


Maka saya bergegas kembali melawan alur penumpang, menuju pemeriksaan keamanan. Bagasi saya ada di sana menanti majikannya. Petugas pun menanyakan beberapa hal untuk memastikan koper itu milik saya. Malang, ulekan harus tertahan di pemeriksaan keamanan. Menurut petugas, barang itu harus masuk bagasi. Saya akhirnya merelakan itu untuk ditinggal. Thermo gun juga sempat menjadi permasalahan, meski akhirnya diperbolehkan.

 

Saatnya boarding dengan Turkish Airlines. Saya sempat berfikir untuk menulis catatan tentang film-film yang saya tonton di penerbangan-penerbangan panjang. Mungkin kelak saya akan menuliskannya. Kali ini saya menonton Underworld dan Pinokio. Video keselamatan maskapai ini dibuat dalam dua bahasa tapi masing-masing bahasa diputar sendiri sehingga durasinya jadi lama. Makanannya ... Hmm .. saya kira saya sudah pernah menemukan yang lebih baik.

 

Barangkali efek pandemi, di bandara Istanbul saya menemukan sajadah sekali pakai. Di bandara ini saya menyadari bahwa Turki punya istilah sendiri untuk waktu-waktu shalat. Tidak seperti Indonesia yang menyerapnya dari bahasa Arab. Saat di Bologna, saya berkesempatan bertanya tentang ini pada teman dari Yaman yang pernah kuliah di Turki. Ia membenarkan. Adaptasi bahasa Turki terjadi di hampir semua lini.



 

Sampai di Italia.

Benak saya masih dipenuhi berbagai kemungkinan tidak menyenangkan. Saya teringat kisah Aray dan Ikal di Edensor yang terpaksa terdampar kedinginan karena ditolak masuk oleh pemilik apartemen. Seperti biasa, pikiran saya sudah terbang ke sana kemari membayangkan skenario-skenario terburuk. Bagaimana kalau dia menolak saya dan teman sekamar karena belum membayar sewa dan jaminan misalnya?

 

Alhamdulillah. Putri land lady ternyata sangat baik hati. Saat kami tiba, ia membuka pintu seraya memandangi kami dan deretan koper-koper. Hari pertama kami sudah membawa seorang gadis singgah ke apartemen. Besoknya kami mampir ke toko sebelah dan sudah langsung menemukan beras.

 

Sebuah awal yang baik sepertinya.


 ***


Bologna adalah ibukota provinsi Bologna dan region Emilia-Romagna di Italia. Berada di antara lembah Po dan bukit Apenina. Dulu di daerah ini berkembang agrikultur, perdagangan dan produksi anggur. Sekarang menjadi satu dari kota Italia dengan jumlah usaha makanan terbanyak. Makanan khas Bologna antara lain tortellini, tagliatelle, ragu, dan mortadela.

 

Yang jarang dijumpai di lain kota, ada atap sepanjang lebih dari 40 km yang memungkinkan pejalan menikmati Bologna dalam segala cuaca. Di sini ada universitas tertua di dunia Barat dan salah satu sentra otomotif utama di Italia seperti Ducati, Ferrari, Lamborghini dan Maserati. Philip Morris juga membangun pabrik di sini.

 

Industri farmasi di Italia kebanyakan berbasis keluarga, mungkin seperti Kalbe dan Sanbe di Indonesia. Menurut Aldo Braca, presiden dan CEO CDMO, BSP, industri farmasi global lahir di Italia. Farmitalia Carlo Erba dan Lepetit adalah salah satu pionir, namun tidak banyak sokongan dari pemerintah sehingga tidak dapat tumbuh sepenuhnya. Banyak pemain skala global seperti Pfizer dan Roche, yang terkait, sedemikian rupa, dengan dua perusahaan ini.

Basilica San Petronia setinggi 45 meter terdiri dari separuh kayu separuh marmer. Pembangungannya dimulai pada tahun 1390 dan berlangsung beberapa abad. Pada tahun 1514, bangunan ini diperkirakan akan lebih besar dari Basilica San Pedro di Roma. Karena alasan tersebut, pemerintah saat itu menghentikan proyek ini untuk mempertahankan basilika terbesar tetap ada di Roma. Bangunan ini lalu selesai dibangun pada 1659 dengan menyisakan jejak-jejak interupsi.


 ***

Saat itu Green Pass masih diterapkan. Beberapa ruang publik hanya dapat diakses jika kita dapat menunjukkan sertifikat vaksin atau hasil tes swab PCR/rapid. Mereka menyebutnya tamponi, berlaku selama 2 hari, seharga 15 Euro. Saat di Indonesia saya paling malas daftar tracing meski kadang ada kontak sedemikian rupa.



Kondom hingga ganja dapat dibeli di mesin penjual mandiri dengan Tessera Sanitaria atau semacam kartu BPJS.

 

  
Iklan rukyah

Alat penghitung jumlah sepeda yang melintas


Pose depan kampus
Bologna adalah salah satu kota dari perjalanan saya menempuh program master. 
Dua negara, tiga kota. Barang kali itu yang akan menjadi judul catatan perjalanan ini.

30 April 2023

Rangkaian Pengalaman Tes dan Vaksin Covid-19

¨Saya doakan kamu dan keluarga jauh dari virus corona.¨ (pesan WA dari seorang teman, 20 Maret 2020)


Akhir tahun 2022, PPKM dicabut di Indonesia. 

Saya pertama kali menjalani rapid test covid-19 pada tanggal 21 April 2020. Setelah itu PCR massal di kantor. Lalu saat dinas luar ke Kediri. Setelahnya hanya rapid test.







Saat akan berangkat melanjutkan studi ke Italia, saya menjalani PCR.






Saat tiba di Italia, saya melakukan PCR untuk mengakhiri masa karantina. Tes ini disediakan gratis oleh pemerintah Italia.

Untuk mengikuti kuliah di kelas, saya harus melakukan tes rapid yang berlaku 2x24 jam. Suatu ketika di kelas kami ada indikasi positif, saya pun melakukan tes rapid. Sekali waktu, hasil sertifikat tes saya namanya jadi seperti di bawah ini.



Sekarang saya sudah divaksin sebanyak lima kali, yakni Sinovac, Comirnaty dan Moderna.