29 September 2026

Seperempat Hari Menjelajah Eropa

Belum lama ini saya berkesempatan menghadiri European Day of Languages 2026 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kampusnya cukup luas juga ternyata. Beberapa bagian sedang direnovasi. 


Sebagai seseorang yang punya ketertarikan pada bahasa, acara ini sangat menarik perhatian saya. Lagi pula ternyata bisa sekalian menyegarkan kenangan masa-masa studi di Eropa, di mana keberagaman bahasa adalah kenyataan yang dihadapi setiap hari.


Setiap meja perwakilan negara senantiasa dipenuhi para pengunjung yang antusias mengenal dan mempelajari bahasa serta hal terkait seperti budaya. 


Meja pertama yang saya sambangi adalah Georgia. Saya tertarik dengan keindahan aksaranya yang seperti mantra, yang ternyata punya tiga variasi bentuk. Salah seorang perwakilan lalu menuliskan nama saya dalam aksara Georgia. Selain bahasa, budaya dan negaranya juga dibahas. 


Meja kedua saya beralih ke Rumania. Ibu di sana mengambil pendekatan memperkenalkan alfabet Rumania serta cara pelafalannya. 


Berikutnya saya ke meja Italia. Saya mereset ulang kemampuan bahasa Italia saya lalu berlatih menyebutkan nama dan usia saya. 


Finlandia mengambil pendekatan yang agak berbeda. Mereka menyajikan daftar kata-kata Finlandia yang sama tapi maknanya berbeda dengan bahasa Indonesia. Perempuan yang berjaga di sana ternyata seorang linguis, jadi ada sempat asupan ilmiah tentang bahasa ini. 


Di Swedia saya sedikit memamerkan kemampuan saya dengan menjawab dalam bahasa Viking ini. Budaya Swedia juga diperkenalkan di sini seperti kebiasaan Fika dan beberapa kue khas Swedia seperti Semla.


Meja Portugal mengajak pengunjung mengenal tokoh-tokoh Portugal. Tentunya ada tokoh yang kita kenal melalui pelajaran sejarah seperti Ferdinand Magellan dan Afonso de Albuquerque. Baru tahu Nelly Furtado dari Portugal. 


Setiap meja bukan cuma memamerkan brosur atau suvenir, tapi para penjaganya sangat interaktif mengajak pengunjung berkenalan, belajar sapaan lokal, hingga memahami keunikan linguistik negara mereka. Meski tiap meja punya pendekatan berbeda, semuanya berhasil merangkul pengunjung untuk mengenal lebih dalam bahasanya masing-masing. 


Puncak keseruan sore itu ditutup dengan kuis interaktif menggunakan Kahoot yang menguji wawasan seputar bahasa-bahasa di dunia, geografi, dan keunikan budaya Eropa. Jari-jari harus bergerak cepat memilih jawaban di layar ponsel sambil berkejaran dengan peserta lain. Begitu skor akhir dihitung, voila! Saya berhasil finish di urutan ke-4 dan dihadiahi suvenir dari panitia. Lumayan, pembuktian kalau otak masih encer buat urusan trivia bahasa!


Beberapa negara punya bahasa lokalnya sendiri seperti Katalan atau Basque. Sayangnya saya malah tidak mampir ke meja Spanyol. 


Alangkah menarik jika ada even yang memfasilitasi berbagai bahasa dunia. Tapi siapa yang bisa menyelenggarakannya ya? Kemendikbud? Kemenlu?


Sampai jumpa tahun depan. Arrivederci, hej då!

 

 

12 Agustus 2023

Dua Negara, Tiga Kota


 ¨Man can live under any climate if he will only adapt himself to its requirements and conditions.¨ 

(Jose Rizal)

 

Soekarno Hatta, September 2021.

 

Takut.

Terus terang itu hal yang terus singgah di benak saya menjelang keberangkatan kuliah di Eropa. Tapi di situlah seninya perjalanan. Melangkah saja. Maka kamu akan melewatinya juga. Ternyata.

 

Mungkin karena pikiran ke mana-mana, saat menuju ruang tunggu, koper kabin saya tertinggal setelah melewati imigrasi. Biasanya saya hanya bawa ransel ke kabin.


Maka saya bergegas kembali melawan alur penumpang, menuju pemeriksaan keamanan. Bagasi saya ada di sana menanti majikannya. Petugas pun menanyakan beberapa hal untuk memastikan koper itu milik saya. Malang, ulekan harus tertahan di pemeriksaan keamanan. Menurut petugas, barang itu harus masuk bagasi. Saya akhirnya merelakan itu untuk ditinggal. Thermo gun juga sempat menjadi permasalahan, meski akhirnya diperbolehkan.

 

Saatnya boarding dengan Turkish Airlines. Saya sempat berfikir untuk menulis catatan tentang film-film yang saya tonton di penerbangan-penerbangan panjang. Mungkin kelak saya akan menuliskannya. Kali ini saya menonton Underworld dan Pinokio. Video keselamatan maskapai ini dibuat dalam dua bahasa tapi masing-masing bahasa diputar sendiri sehingga durasinya jadi lama. Makanannya ... Hmm .. saya kira saya sudah pernah menemukan yang lebih baik.

 

Barangkali efek pandemi, di bandara Istanbul saya menemukan sajadah sekali pakai. Di bandara ini saya menyadari bahwa Turki punya istilah sendiri untuk waktu-waktu shalat. Tidak seperti Indonesia yang menyerapnya dari bahasa Arab. Saat di Bologna, saya berkesempatan bertanya tentang ini pada teman dari Yaman yang pernah kuliah di Turki. Ia membenarkan. Adaptasi bahasa Turki terjadi di hampir semua lini.



 

Sampai di Italia.

Benak saya masih dipenuhi berbagai kemungkinan tidak menyenangkan. Saya teringat kisah Aray dan Ikal di Edensor yang terpaksa terdampar kedinginan karena ditolak masuk oleh pemilik apartemen. Seperti biasa, pikiran saya sudah terbang ke sana kemari membayangkan skenario-skenario terburuk. Bagaimana kalau dia menolak saya dan teman sekamar karena belum membayar sewa dan jaminan misalnya?

 

Alhamdulillah. Putri land lady ternyata sangat baik hati. Saat kami tiba, ia membuka pintu seraya memandangi kami dan deretan koper-koper. Hari pertama kami sudah membawa seorang gadis singgah ke apartemen. Besoknya kami mampir ke toko sebelah dan sudah langsung menemukan beras.

 

Sebuah awal yang baik sepertinya.


 ***


Bologna adalah ibukota provinsi Bologna dan region Emilia-Romagna di Italia. Berada di antara lembah Po dan bukit Apenina. Dulu di daerah ini berkembang agrikultur, perdagangan dan produksi anggur. Sekarang menjadi satu dari kota Italia dengan jumlah usaha makanan terbanyak. Makanan khas Bologna antara lain tortellini, tagliatelle, ragu, dan mortadela.

 

Yang jarang dijumpai di lain kota, ada atap sepanjang lebih dari 40 km yang memungkinkan pejalan menikmati Bologna dalam segala cuaca. Di sini ada universitas tertua di dunia Barat dan salah satu sentra otomotif utama di Italia seperti Ducati, Ferrari, Lamborghini dan Maserati. Philip Morris juga membangun pabrik di sini.

 

Industri farmasi di Italia kebanyakan berbasis keluarga, mungkin seperti Kalbe dan Sanbe di Indonesia. Menurut Aldo Braca, presiden dan CEO CDMO, BSP, industri farmasi global lahir di Italia. Farmitalia Carlo Erba dan Lepetit adalah salah satu pionir, namun tidak banyak sokongan dari pemerintah sehingga tidak dapat tumbuh sepenuhnya. Banyak pemain skala global seperti Pfizer dan Roche, yang terkait, sedemikian rupa, dengan dua perusahaan ini.

Basilica San Petronia setinggi 45 meter terdiri dari separuh kayu separuh marmer. Pembangungannya dimulai pada tahun 1390 dan berlangsung beberapa abad. Pada tahun 1514, bangunan ini diperkirakan akan lebih besar dari Basilica San Pedro di Roma. Karena alasan tersebut, pemerintah saat itu menghentikan proyek ini untuk mempertahankan basilika terbesar tetap ada di Roma. Bangunan ini lalu selesai dibangun pada 1659 dengan menyisakan jejak-jejak interupsi.


 ***

Saat itu Green Pass masih diterapkan. Beberapa ruang publik hanya dapat diakses jika kita dapat menunjukkan sertifikat vaksin atau hasil tes swab PCR/rapid. Mereka menyebutnya tamponi, berlaku selama 2 hari, seharga 15 Euro. Saat di Indonesia saya paling malas daftar tracing meski kadang ada kontak sedemikian rupa.



Kondom hingga ganja dapat dibeli di mesin penjual mandiri dengan Tessera Sanitaria atau semacam kartu BPJS.

 

  
Iklan rukyah

Alat penghitung jumlah sepeda yang melintas


Pose depan kampus
Bologna adalah salah satu kota dari perjalanan saya menempuh program master. 
Dua negara, tiga kota. Barang kali itu yang akan menjadi judul catatan perjalanan ini.

30 April 2023

Rangkaian Pengalaman Tes dan Vaksin Covid-19

¨Saya doakan kamu dan keluarga jauh dari virus corona.¨ (pesan WA dari seorang teman, 20 Maret 2020)


Akhir tahun 2022, PPKM dicabut di Indonesia. 

Saya pertama kali menjalani rapid test covid-19 pada tanggal 21 April 2020. Setelah itu PCR massal di kantor. Lalu saat dinas luar ke Kediri. Setelahnya hanya rapid test.







Saat akan berangkat melanjutkan studi ke Italia, saya menjalani PCR.






Saat tiba di Italia, saya melakukan PCR untuk mengakhiri masa karantina. Tes ini disediakan gratis oleh pemerintah Italia.

Untuk mengikuti kuliah di kelas, saya harus melakukan tes rapid yang berlaku 2x24 jam. Suatu ketika di kelas kami ada indikasi positif, saya pun melakukan tes rapid. Sekali waktu, hasil sertifikat tes saya namanya jadi seperti di bawah ini.



Sekarang saya sudah divaksin sebanyak lima kali, yakni Sinovac, Comirnaty dan Moderna.


15 Maret 2022

Senarai Nama Covid


Dua tahun sudah berlalu sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020. Saat itu, Covid-19 telah menyebar ke lebih dari 100 negara.

Apalah arti sebuah nama, begitu ujar Shakespeare. Namun sepertinya ini tidak berlaku bagi peristiwa besar yang tengah melanda dunia ini, pandemi Covid-19. Meskipun WHO telah menetapkan nama resmi baik untuk virus dan penyakit ini, Covid-19 dibicarakan di berbagai negara dengan nama yang tidak selalu sama.

Pada tanggal 12 Februari 2020, pusat penanganan pandemi Korea Selatan memilih 코로나-19 (Corona-19) sebagai nama resmi, yang kemudian diikuti oleh media-media Korea Selatan. Sementara jika kita mendengarkan berita berbahasa Inggris mancanegara, maka kita akan lebih umum mendengar istilah Covid-19 sesuai anjuran WHO yang menetapkan Covid-19 sebagai nama resmi pada 11 Februari 2020.

Singkatan COVID (코비드) berasal dari kata Coronavirus (코로나바이러스). Pelafalan konsonan plosif/letup seperti ㅂ atau ㅃ dari pada konsonan lateral seperti ㄹrelatif sulit bagi lidah orang Korea sehingga versi yang lebih singkat akan lebih disukai secara alami yakni 코로나dengan sufiks yang menunjukkan tahun 2019, sehingga menjadi 코로나-19. Selain itu, Israel juga menggunakan istilah corona. קורונה.

Beberapa bahasa menerapkan sistem gender termasuk untuk benda, sehingga virus ini pun perlu ditetapkan status gendernya. The Academie Francaise, badan berwenang yang mengatur bahasa Perancis, menetapkan aturan tata bahasa untuk Covid-19 adalah feminin. Ini serupa dengan bahasa serumpun yang memiliki aturan gender seperti Spanyol dan Italia.

Sekretaris Ditjen P2P Kemenkes saat itu, Achmad Yurianto memberikan penjelasan perihal virus SARS CoV-2 atau virus Corona tipe II. Ketika dikonfirmasi kembali, Yuri tetap menyatakan SARS CoV-2 berbeda dengan virus Covid 19 yang menjadi wabah saat ini. Yuri mengakui jika penjelasannya berbeda dengan penjelasan dari informasi resmi badan kesehatan dunia (WHO). Kemenkes tidak mempersoalkan perbedaan ini, namun lebih menekankan perihal kewaspadaannya.

Di sisi lain, pada awal merebaknya pandemi Covid-19, di Indonesia sempat beredar sebuah kampanye di media sosial agar tidak menggunakan kata Covid-19 atau Corona, dan diganti dengan kata Qif-19 dengan alasan bahwa dalam bahasa Arab qorona (huruf qaf-ra-nun) berarti “berhubung atau berterusan”, sedangkan kata qif berarti “hentikanlah atau stop.”

Seperti HIV yang merupakan nama virus yang menyebabkan penyakit AIDS. Virus diberi nama berdasarkan struktur genetikanya untuk memfasilitasi perkembangan tes diagnostik, vaksin dan pengobatan.

Penamaan virus ditangani oleh Komite Internasional untuk Taksonomi Virus (ICTV). Sementara itu, penamaan penyakit dilakukan oleh WHO dalam International Classification of Diseases (ICD).

25 Februari 2022

Jangan Pernah Menyerah untuk Mencari Celah

“Saya punya mimpi terkait perjalanan akademik, yakni kuliah S2 ke luar negeri. Dalam rangkaian perjalanan akademik saya yang berwarna-warni seperti di bawah ini, saya masih menyimpan mimpi.” (Bersemi dari Sekolah Farmasi)




Saat ini sudah banyak sekali kisah-kisah pencapaian beasiswa.

Saya berharap kisah saya dapat menambahkan satu lagi sentuhan warna, yang sedikit berbeda.

Selama ini, kegagalan dan penolakan sudah sering bercanda dengan saya.

Lulus kuliah dengan IPK seadanya, saya tak berharap moeloek-moeloek, walaupun saya sempat menjadi stafnya bu Moeloek. Bekerja di apotek. Itu saja. Tak ada terfikir untuk melamar CPNS atau melanjutkan pendidikan tinggi. Nyatanya saya dianugerahi keduanya. 

Dahulu paska lulus sarjana, saya melamar ke berbagai tempat.

Beberapa di antaranya adalah …

Melamar ke RSUD Karawang, ditolak

Melamar ke Kalbiotech, Kalbe, dan beberapa perusahaan lain, tidak mendapat jawaban

Tawaran apotek di Bogor, lalu di Pelabuhan Ratu, menolak

Melamar, Seleksi, lalu wawancara di Guardian, ditolak

Dipanggil Graha Finesa, sebanyak 2x, menolak

Melamar ke Kalbe Vision dan International SOS, tidak dipanggil

Ada apotek baru di Bekasi, menolak

Ada apotek baru di Karawang, diacuhkan

Melamar ke LKC, no answer

Wawancara di Brataco, pending

Apotek K-24, wawancara final. Ditolak pemilik sarana.

Wawancara Penerbit EGC, ditolak. Saingan saya kini bekerja di Kemenkes.

 

Saya lalu bekerja di Kemenkes sejak 2010. 

Tahun 2014 saya memulai pencarian pendidikan lanjut. Tertarik pada tema ini. Farmasi sosial.

2014 - Saya mendaftar program International Graduate Program in Social and Administrative Pharmacy (SAP) di Universitas Chulalongkorn, Thailand. Saya sampai menelepon dosennya di Thailand untuk memastikan proses yang harus dilalui. Tidak ada kabar tentang lamaran saya.

2015 - Banyak yang saya daftar, termasuk Erasmus, baik Action 1 maupun Action 2. Alfabet dan Lotus. University of Porto dan Uppsala University adalah beberapa kampus yang saya pilih. Saya juga mendaftar di KIT.

 

Di Maastricht dan Copenhagen, saya diterima di kampusnya, tapi tidak mendapatkan beasiswa.

Edamus. Tidak diterima.

2020 - Saya mendaftar beasiswa Posco Korea Selatan dan New Zealand. Tidak diterima.

Saya juga mencoba mendaftar SISGP dua kali di tahun 2020 dan 2021. Program yang sama. Pharmaceutical Modelling - Uppsala University. 

Programnya diterima, tapi beasiswanya tidak.

 

Banyaknya? Ya.

Persamaannya? Ya, beasiswa-beasiswa ini tidak mensyaratkan IPK.

IPK saya yang di bawah rata-rata menyempitkan pilihan-pilihan saya. Namun itu kemudian membuat saya lebih fokus membidik peluang dan mempersiapkan segala sesuatunya serta memoles apa yang bisa diupayakan.

Tadinya saya akan mendaftar LPDP. Waktu itu syarat IPK bisa dikesampingkan jika ada LoA. Namun saat akan mendaftar syaratnya berubah lagi.

Tentu tidak semua berisi kegagalan-kegagalan. Ada pencapaian-pencapaian kecil dan menengah yang menguatkan. Tahun 2015 saya mengikuti kursus keamanan pangan di University of Wageningen dengan beasiswa Netherland Fellowship Programme (NFP). Sayang sepertinya NFP tidak berlanjut dan digantikan oleh Orange Knowledge Programme.

Di tahun yang sama saya mengikuti pelatihan manajemen bahan kimia di Kemi, Swedia dengan biaya SIDA, badan kerja sama internasional Swedia.

Perlahan, saya menumbuhkan sebuah optimisme yang lahir dari keterpaksaan.

 


Whatever it takes!

Tapi IPK saya di bawah standar rerata para peraih beasiswa. Pengalaman organisasi juga biasa saja. Saya hanya pernah menjadi ketua sebuah kepanitiaan acara konser nasyid dan kepala bidang sebuah unit kegiatan mahasiswa.

Terakhir saat Quora memberikan akses kepada saya untuk membuat Ruang, saya menggagas Birokrasi Indonesia. Selebihnya hanya tulisan saya yang terpencar di berbagai media.

Lalu tiba-tiba keajaiban terjadi.

Saya bahkan telah sampai pada titik di mana saya lelah. Dan berfikir mungkin memang paska sarjana bukan buat saya.

Saya mendaftar Emmcchir sejak 2015, 2016 dan 2021. Ini percobaan ketiga saya. Sebelumnya harus puas berada di reserve list.

Dan kini saya berkesempatan mengenyam ilmu di universitas tertua di belahan barat..

Sebuah anugerah yang luar biasa. Kesempatan nan sangat berharga.

Saya yang dari segi akademik, pengalaman organisasi pun biasa-biasa saja. Lalu apa?

Privilege. Apakah saya memiliki privilege? Bisa jadi. Saya tak pernah kursus bahasa secara formal. Saya bekerja di pemerintahan.

Empat belas kali gagal.

Kemudian menjadi satu dari dua orang Indonesia pertama di program ini.

Dan ini mungkin buat sesiapa saja yang akan dan tengah memperjuangkan mimpinya.

 

Jangan pernah lelah untuk mencari celah!

21 Desember 2021

Kilas Balik Satu Dasawarsa Pengadaan Non Obat Farmalkes (2011-2021)

Ada kemiripan antara penggunaan antibiotik dan alokasi anggaran di pemerintah. Jika telah direncanakan untuk diberikan, sebaiknya digunakan sampai habis. Meski sebenarnya ada sisi lain yang mungkin agak terlupakan, yakni bahwa sebaiknya tidak digunakan jika tidak diperlukan.

Sebagai salah satu unit utama di Kementerian Kesehatan, pelaku pengadaan di Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan tidak hanya melaksanakan pengadaan obat-obatan, namun juga pengadaan non obat. Mulai dari pengadaan yang biasa dilakukan di unit utama lain seperti pencetakan, kendaraan, sistem aplikasi, juga renovasi ruangan (pada periode tertentu), hingga pengadaan yang relatif khusus seperti pameran kesehatan, konsultan, laboratorium mikrobiologi, P4TO (Pusat Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat) dan PED (Pusat Ekstrak Daerah).

Pengadaan P4TO dan PED adalah contoh paket pengadaan di mana tidak banyak penyedia yang mengajukan penawaran sehingga terkadang paket harus diulang. Meski secara rutin dilakukan sesuai bertambahnya daerah yang menjalin perjanjian kerja sama, penyedia yang mau dan mampu mengerjakan tender ini masih relatif sedikit.

Perpres yang melandasi proses pengadaan pun berubah seiring waktu. Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah telah empat kali diubah sebelum hadirnya Perpres No 16 Tahun 2018. Tahun ini, sudah ada perubahan juga untuk Perpres No 16 Tahun 2018.

Ada juga kebijakan berupa edaran seperti Surat Edaran Kepala LKPP No 1 Tahun 2015 tentang Pengumuman Pengadaan Barang/Jasa di Surat Kabar. Pengumuman pengadaan via surat kabar kembali diwajibkan setelah pada Perpres 54/2010, penayangan pengumuman pengadaan di surat kabar menjadi hal yang bersifat pilihan. Namun sepertinya edaran ini tak banyak disadari.

Perubahan regulasi memicu perubahan pelaksanaan proses pengadaan. Dihapuskannya pejabat dan panitia penerima hasil pengadaan, hingga adanya kewajiban E-Purchasing untuk Barang/Jasa yang sudah ada dalam sistem katalog elektronik. 

Proses pengadaan terkait erat dengan perencanaan dan keuangan. Di lapangan, perbedaan cara pandang dapat memicu diskusi. Misalnya tentang definisi barang dan jasa. Untuk pengadaan pencetakan, proses pengadaannya adalah jasa, namun hasilnya memang berupa barang, dalam hal ini buku atau sejenisnya. Tidak semua jasa hasilnya tidak berwujud seperti jasa kebersihan atau jasa keamanan.

Pelaku pengadaan harus selalu mengikuti perkembangan regulasi. Sebagai contoh, istilah Penunjukkan Langsung dan Pengadaan Langsung kerap tertukar di lapangan. Penunjukkan Langsung tidak mengenal ambang nilai, namun kondisi khusus, sementara Pengadaan Langsung memiliki ambang nilai. Salah satu perubahan dalam regulasi adalah perubahan besaran nilai untuk Pengadaan Langsung.

Proses pengadaan juga terkait erat dengan keuangan. Bukti transaksi dengan besaran nilai tertentu misalnya, di Perpres cukup dengan menggunakan kuitansi, sementara di keuangan kebijakannya berbeda karena peraturan yang melandasi proses bisnis masing-masing memang berbeda.

Sistem aplikasi yang digunakan pun mengalami cukup banyak perubahan. LPSE telah berubah dari versi 3 ke versi 4. Sebelumnya perubahan jadwal pelaksanaan lelang harus diproses oleh Pokja Pemilihan ke Administrator LPSE Kemenkes. Sekarang Pokja Pemilihan dapat mengubah jadwal sendiri sesuai aturan yang berlaku. Menu-menu dalam LPSE pun semakin bervariasi seperti reverse auction dan fasilitasi pemenuhan dokumen kualifikasi. Pengunduhan dan pendekripsian dokumen penawaran misalnya dahulu dilakukan satu per satu, sekarang dapat dilakukan secara simultan.

Apapun itu, kita berharap semua dimaksudkan untuk menuju perbaikan. Semoga pelaksanaan pengadaan dapat menjadi semakin sederhana, semakin transparan, semakin efisien dan semoga semakin memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat.

03 Oktober 2021

Menuju Regulasi Bahan Kimia yang Lebih Baik

“The brick walls are there for a reason. The brick walls are not there to keep us out. The brick walls are there to give us a chance to show how badly we want something. Because the brick walls are there to stop the people who don’t want it badly enough. They’re there to stop the other people.” (Randy Pausch, Last Lecture) 

Tahun 2015 adalah tahun yang istimewa bagi karir profesional saya. Di tahun itu, saya diberi kepercayaan untuk menerima beasiswa pada 2 (dua) pelatihan internasional, yakni short course “Governance & Food Safety In International Food Chains” pada bulan Maret, di Wageningen University and Research, Belanda dan International Training Programme ITP299 “Strategies for Chemical Management”, pada bulan September, di KEMI (Kemikalieinspektionen), Swedia.


Materi-materi dalam pelatihan yang pertama berfokus pada tema kebijakan keamanan makanan dan perdagangan internasional di Uni Eropa, sementara materi-materi pada pelatihan kedua mencakup pengembangan regulasi dan infrastruktur institusional dalam rangka peningkatan manajemen bahan kimia di tingkat nasional. Dua topik yang memiliki kaitan erat dengan bidang pekerjaan saya di Kementerian Kesehatan.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan-pelatihan tersebut, saya melakukan diseminasi pengetahuan yang telah didapatkan dalam bentuk penyusunan buku pedoman dan proyek perubahan. Setelah fase pelatihan, para peserta memang didorong untuk melaksanakan change project di negaranya masing-masing sesuai dengan visi misi organisasi asalnya. Pengetahuan adalah cahaya yang menerangi, membawa pencerahan. Hal itu akan terjadi apabila ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dan bermanfaat bagi banyak orang.

Berdasarkan materi dari pelatihan “Governance & Food Safety In International Food Chains” dan dilengkapi dengan masukan dari praktisi dan tenaga ahli di bidang keamanan makanan, saya beserta tim di kantor mengembangkan buku pedoman pembinaan keamanan makanan untuk petugas kesehatan di seluruh Indonesia. Secara umum, konten buku pedoman tersebut didasarkan pada konsep analisis risiko keamanan makanan yang sedang berkembang saat ini.

Pelatihan mengenai strategi manajemen bahan kimia menyadarkan saya bahwa lingkungan sangat berkaitan dengan kesehatan manusia. Hasil dari pelatihan ITP299 “Strategies for Chemical Management” diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat dengan tema “Awareness Raising Regarding Safe Chemical Use in SME Food Producers in Jakarta/West Java.” Secara garis besar, proyek perubahan ini berusaha memberikan pemahaman yang benar terkait penggunaan bahan kimia pada proses produksi makanan di industri rumah tangga. Saya memilih tema ini mengingat isu keamanan makanan di Indonesia banyak terkait dengan penyalahgunaan bahan kimia berbahaya. Sebagian masyarakat cenderung menghindari bahan kimia pada makanan berapa pun jumlahnya, sementara sebagian lain menggunakannya tanpa memedulikan takaran penggunaan.

Perjalanan untuk mendapatkan beasiswa pelatihan tersebut dimulai jauh sebelumnya. Atasan di kantor pun sering mendorong saya untuk menelusuri informasi-informasi beasiswa. Seperti pada umumnya proses aplikasi beasiswa, terdapat pula proses pendaftaran, seleksi dan pengumuman penerimaan. Saya melihat ada satu kesamaan pada dua proses aplikasi beasiswa tersebut yakni penyusunan rencana kerja paska pelatihan. Di sini saya menyadari, pemberi beasiswa menitik beratkan pada pertanyaan “Apa yang akan dilakukan setelah mengikuti pelatihan ini?”

Tidak selalu mudah untuk mengupayakan perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak mudah, tapi juga bukan tidak mungkin. Saya percaya, kita tidak perlu menyerah pada keadaan. Tembok besar yang ada di hadapan hadir bukan untuk menghentikan langkah meraih cita-cita. Ia hadir untuk menguji seberapa kokoh tekad yang dibangun, seberapa gigih usaha yang dikerahkan. Mengenali keterbatasan dan memetakan medan, mengupayakan pencapaian seraya mencari peluang. Lalu menyebarkan sebesar-besar manfaat bagi seluas-luasnya lingkungan sekitar.

Indonesia sedang menuju era di mana bahan kimia digunakan secara luas di bidang industri, agrikultur, konsumen, dan kesehatan. Dengan luasnya potensi manfaat bahan kimia, efek yang tidak diinginkan terkait kesehatan dan lingkungan tidak bisa diabaikan. Saat ini tidak ada satu badan tunggal yang kompeten dalam menangani manajemen bahan kimia terkait luasnya penggunaan dalam seluruh life cycle termasuk produksi, transportasi, penyimpanan, penggunaan dan disposal.

Pada tahun 2014, Kementerian Kesehatan melakukan Studi Diet Total untuk mengevaluasi data konsumsi makanan nasional. Fase kedua dilakukan pada 2015 untuk menganalisa cemaran kimia yang ada pada makanan. Penyalahgunaan bahan kimia berbahaya merupakan salah satu fenomena yang umum terjadi di Indonesia, khususnya yang terkait dengan produksi makanan, seperti bahan tambahan pangan, pestisida, hormon pertumbuhan dan sebagainya. Dampaknya pada kesehatan masyarakat sering terabaikan karena sebagian besar memiliki efek kronis. 

Di sisi lain, ada senyawa-senyawa psikoaktif baru yang menjadi ancaman bagi kesehatan. Kurangnya data ilmiah tentang senyawa-senyawa tersebut menjadi hambatan dalam menyusun regulasi dan penanganannya. Perlu ada terobosan dalam proses pengkajiannya.

Kesadaran ini yang menjadi salah satu motivasi bagi saya untuk mendaftar di program Erasmus Mundus Master in Chemical Innovation and Regulation. Saya tertarik dengan program ini karena kurikulumnya yang komprehensif terkait manajemen bahan kimia untuk memberikan input yang berharga dalam pengembangan kebijakan manajemen bahan kimia di Indonesia terkait keamanan pangan. Sehingga saya dapat memperluas perspektif dan memperdalam pengetahuan mengenai regulasi bahan kimia untuk melindungi masyarakat dari efek yang tidak diinginkan dari bahan kimia.