1. What is your name : Fajar
2. A four Letter Word : Fine
3. A boy's Name : Faris
4. A girl's Name : Fika
5. An occupation : Farmasis
6. A color : Fuchsia
7. Something you'll wear : Funky Cloth
9. A food: Fillet
10. Something found in the bathroom: Funny towel
11. A place : Food court
12.A reason for being late : Finishing article
13. Something you'd shout : F***
14. A movie title : Finding Nemo
15. A musical group : Foo Fighter
16. An animal : Fish
21 Agustus 2010
18 Juli 2010
Siap atau Tidak, Hadapi Tembokmu!
Impian, cita-cita, semangat dan ambisi. Desir-desir hati manusia memang akan selalu mengejar mencari sesuatu, mungkin hingga ujung waktu.
Tapi apakah manusia selalu mendapatkan apa yang dicita-citakannya?
Bukankah terkadang ada tembok yang tegak berdiri menghadang?
Terkadang tembok melambangkan arogansi, mungkin seperti tembok pemisah Palestina ini.
Hanya saja ingatlah, arti hadir tembok bukan untuk membuat langkah terhenti. Seperti kata Randy Pausch yang menulis 'the Last Lecture' (salah satu buku termahal yang pernah saya beli, untung lagi diskon), "Tembok penghalang berdiri disana karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita! Tembok itu ada untuk memberi kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu”.
Tembok Ratapan
Di bukunya itu, ia bercerita tentang bagaimana ia mewujudkan satu per satu impian masa kecilnya, melewati satu demi satu tembok yang merintangi. Termasuk ketika ia memilih sang pendamping. Menurutnya, Jai, yang kemudian menjadi istri tercintanya merupakan salah satu tembok penghalang yang paling mengesankan dalam hidupnya. Ia menyebut istrinya, tembok cantik setinggi 167 cm, yang sanggup membuatnya menangis, mengevaluasi seluruh hidupnya, juga menelepon ayahnya dalam keadaan tidak berdaya untuk meminta bimbingan dalam mendaki tembok itu.
Pembangunan tembok Berlin, yang memisahkan banyak keluarga.
Ada beberapa cara untuk melintasi tembok yang menghalangi impian, yang kau cita-citakan.
Kau bisa melompatinya, menubruknya, mencari celah untuk menyelinap, mengambil jalan memutar, atau mungkin cara lain yang belum terlintas di pikiran.
Melompat lebih tinggi dari tembok. Cara ini memerlukan energi potensial untuk ditransformasi menjadi energi kinetik yang dapat melejitkan diri melampaui tembok yang menjulang tinggi. Resikonya adalah jika ternyata lompatanmu kurang tinggi sehingga kau malah menabrak tembok (seperti George of the Jungle).
Menubruk tembok hingga ambruk. Cara ini yang dilakoni Lenin muda ketika berhadapan dengan aparat. Ketika aparat berkata padanya, "Kau sedang menubruk tembok", Lenin menjawab "Ya, tapi tembok itu telah rapuh dan akan segera rubuh." Jelas, cara ini memerlukan daya dobrak yang besar.
Mencari celah menyelinap. Ya ya.. cara ini pernah berhasil dicoba, tapi temboknya memang seluas tembok Cina, lalu bagaimana jika hanya tembok rumah biasa?
Mengambil jalan memutar. Fiuuhh, kebayang jauhnya. Masalahnya adalah waktu, yang terus berpacu.
Hmm.. bagaimana sebaiknya menyiasati tembok yang menghalangi?
Kata seseorang, Tembok kalo dikikis walau pelan2 juga akan runtuh :)
Tapi apakah manusia selalu mendapatkan apa yang dicita-citakannya?
Bukankah terkadang ada tembok yang tegak berdiri menghadang?
Terkadang tembok melambangkan arogansi, mungkin seperti tembok pemisah Palestina ini.
Hanya saja ingatlah, arti hadir tembok bukan untuk membuat langkah terhenti. Seperti kata Randy Pausch yang menulis 'the Last Lecture' (salah satu buku termahal yang pernah saya beli, untung lagi diskon), "Tembok penghalang berdiri disana karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita! Tembok itu ada untuk memberi kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu”.
Tembok Ratapan
Di bukunya itu, ia bercerita tentang bagaimana ia mewujudkan satu per satu impian masa kecilnya, melewati satu demi satu tembok yang merintangi. Termasuk ketika ia memilih sang pendamping. Menurutnya, Jai, yang kemudian menjadi istri tercintanya merupakan salah satu tembok penghalang yang paling mengesankan dalam hidupnya. Ia menyebut istrinya, tembok cantik setinggi 167 cm, yang sanggup membuatnya menangis, mengevaluasi seluruh hidupnya, juga menelepon ayahnya dalam keadaan tidak berdaya untuk meminta bimbingan dalam mendaki tembok itu.
Pembangunan tembok Berlin, yang memisahkan banyak keluarga.
Ada beberapa cara untuk melintasi tembok yang menghalangi impian, yang kau cita-citakan.
Kau bisa melompatinya, menubruknya, mencari celah untuk menyelinap, mengambil jalan memutar, atau mungkin cara lain yang belum terlintas di pikiran.
Melompat lebih tinggi dari tembok. Cara ini memerlukan energi potensial untuk ditransformasi menjadi energi kinetik yang dapat melejitkan diri melampaui tembok yang menjulang tinggi. Resikonya adalah jika ternyata lompatanmu kurang tinggi sehingga kau malah menabrak tembok (seperti George of the Jungle).
Menubruk tembok hingga ambruk. Cara ini yang dilakoni Lenin muda ketika berhadapan dengan aparat. Ketika aparat berkata padanya, "Kau sedang menubruk tembok", Lenin menjawab "Ya, tapi tembok itu telah rapuh dan akan segera rubuh." Jelas, cara ini memerlukan daya dobrak yang besar.
Mencari celah menyelinap. Ya ya.. cara ini pernah berhasil dicoba, tapi temboknya memang seluas tembok Cina, lalu bagaimana jika hanya tembok rumah biasa?
Mengambil jalan memutar. Fiuuhh, kebayang jauhnya. Masalahnya adalah waktu, yang terus berpacu.
Hmm.. bagaimana sebaiknya menyiasati tembok yang menghalangi?
Kata seseorang, Tembok kalo dikikis walau pelan2 juga akan runtuh :)
Kata yang lain, temboknya dijadikan penyangga rumah aja. klo memang kuat :)
Kata yang lain lagi, sebenarnya, ada satu penemuan manusia yang luar biasa...yang bisa kita gunakan untuk melihat ke balik tembok....jadi kita bisa meneropong apa yg akan kita hadapi nanti...bisa membuat rencana sebelum mendobrak, menubruk, mengitari, atau mencari2 celah.. :)
24 Juni 2010
Berhentilah Dulu Menjadi Trending Topic di Hatiku
Mencari senyum dalam genggaman jemari. Ada sayang di balik kalbu. Sudah jatuh cinta, tertimpa rindu pula. Terjangkit pula malarindu tropikangen.
Memang ini bukan yang pertama bagiku, tapi sungguh berharap ini yang terakhir. Pernah satu kali ada yang singgah di ruang hati. Tapi yang ini membuatku bergerak maju berupaya menjadikannya nyata. Bukan sekedar menuliskan dalam puisi atau melantunkan melalui lagu. Meski penuh kusadari, manusia tak ada yang sempurna tapi bukan berarti tak ada yang istimewa.
Jangkau pandang manusia terbatas, terkadang bias. Tak mengerti dalamnya hati, tak tahu yang ada di balik kalbu. Maka, Dialah yang Maha Mengetahui. Tanyakanlah pada-Nya. Jika memang dia yang terbaik, untuk dunia dan akhirat. Mudahkanlah, tunjukkan jalannya.
Dan untuk yang telah mengingatkan, thank you somad. Melewati usia separuh abad, sudah waktunya melangkah maju menuju cita-cita yang dituju. Pendamping, asisten, tempat tinggal, begitu langkah-langkahnya bila menjadi penguasa.
Maka saya pun melangkah. Dan sementara itu, berhentilah dulu menjadi Trending Topic di hatiku.
O ya. Saya mulai ikut berkicau di twitter jadi kalau mau memantau kicauanku, anda tahu apa yang harus dilakukan.
Memang ini bukan yang pertama bagiku, tapi sungguh berharap ini yang terakhir. Pernah satu kali ada yang singgah di ruang hati. Tapi yang ini membuatku bergerak maju berupaya menjadikannya nyata. Bukan sekedar menuliskan dalam puisi atau melantunkan melalui lagu. Meski penuh kusadari, manusia tak ada yang sempurna tapi bukan berarti tak ada yang istimewa.
Jangkau pandang manusia terbatas, terkadang bias. Tak mengerti dalamnya hati, tak tahu yang ada di balik kalbu. Maka, Dialah yang Maha Mengetahui. Tanyakanlah pada-Nya. Jika memang dia yang terbaik, untuk dunia dan akhirat. Mudahkanlah, tunjukkan jalannya.
Dan untuk yang telah mengingatkan, thank you somad. Melewati usia separuh abad, sudah waktunya melangkah maju menuju cita-cita yang dituju. Pendamping, asisten, tempat tinggal, begitu langkah-langkahnya bila menjadi penguasa.
Maka saya pun melangkah. Dan sementara itu, berhentilah dulu menjadi Trending Topic di hatiku.
O ya. Saya mulai ikut berkicau di twitter jadi kalau mau memantau kicauanku, anda tahu apa yang harus dilakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)