01 April 2008

Mendustakan Nikmat Tuhan

Setelah kenyang dihantam kegagalan demi kegagalan yang menyesakkan. Sempat tergores gugatan tentang mengapa semua ini terjadi. Setelah segenap upaya dikerahkan, setelah semua sumber daya diberikan. Mengapa? Apa yang diinginkan Tuhan dari semua ini?

Yang mengerikan adalah kenyataan bahwa sempat terlintas sebentuk gagasan yang terbentuk dari gumpalan kemarahan dan endapan kekecewaan. Sesuatu yang berwujud Mendustakan nikmat Tuhan. Kadang serupa awan kelam bergumpal, kedukaan yang tak jua reda dalam peluh campur debu. Bersyukur karena di deras hembusan topan badai, menyeruak semilir kelembutan mengingatkan, fa biayyi ala i rabbikuma tukadzibaan.

Sungguh meski badai perih yang menimpa tak sebanding dengan nuansa merah hitam di belahan dunia sana. Toh, diri ini tak punya jiwa tangguh serupa para pejuang itu. Diri ini cuma orang biasa, yang terombang-ambing dihempas badai sekian lama. Ketika muncul pertanyaan, mengapa Tuhan meninggalkanku, atau akulah yang sebenarnya meninggalkan Tuhan.




Menghancurkan Diri Sendiri

Maukah anda mengetahui bagaimana caranya menghancurkan diri sendiri? Kata kuncinya adalah hilangkan harapan. Seseorang yang tidak lagi mempunyai harapan, hanya tinggal menunggu waktu kehancuran. Proses perusakan struktur jiwa dan raganya akan segera dimulai dari dalam ke luar. Jiwa akan terbelah seakan terjatuh dari langit dan disambar angin dihempas ke tempat yang begitu jauh. Seseorang dapat kehilangan apa pun, namun selama ia masih memiliki harapan, ia masih dapat bangkit dari reruntuhan. Lilin harapan adalah lilin yang tak boleh padam.

Dapatkah anda bangkit dari kehancuran yang sedemikian dahsyat? Jika lilin harapan anda masih menyala, maka jawabannya terletak pada mampukah lilin itu menyalakan kembali lilin-lilin lain yang telah padam dalam kehidupan anda. Pada akhirnya, seterpuruk apapun, ketika anda masih mampu menghela nafas, anda masih punya alasan untuk bersyukur, karena anda, masih hidup ...


Mentari Nol Besar



Saat operator seluler lain berkampanye tentang betapa murahnya tarif 0 koma mereka, Mentari bertahan dengan jargon 0 rupiahnya. Dan memang benar, Mentari memang Nol Besar. Minggu kemarin, seorang pelanggan datang membeli voucher senilai 25 ribu rupiah. Setelah voucher digosok biar sip, saya pun diminta memasukkan kode voucher. Tak diduga muncul tulisan "kode voucher tidak dikenal". Karena bingung, dan menduga mungkin tadi sempat salah memasukkan saya pun mencoba kembali. Hasilnya sama. Lalu mencoba melalui jalur 555, komputer di seberang sana bilang kalau voucher yang tadi sudah pernah dipakai. Lha, bagaimana ini? Dan sayangnya Mentari tak punya layanan pengaduan untuk masalah ini, ketika saya mencoba menghubungi 505, tak dapat tersambung. Hmm, sebuah operator seluler tak punya layanan konsumen on call? Benar-benar nol besar. Selamat buat Mentari.

Gimana nih Mbak Dian?


Fitna dan Ayat Ayat Cinta



Sepintas tampak, kedua film ini jauh berbeda tapi juga sama. Tema utama yang diangkat adalah Islam, bedanya pada isi yang disajikan. Mengapa bisa begitu, hal yang menjadi fokus perhatian sama, lalu mengapa bisa berbeda hasilnya.

Fitna menuai sejumlah protes dari umat Islam. Bahkan sebagian menuntut agar film tersebut dicekal. Menyikapi fenomena globalisasi dan kebebasan informasi, bagaimana sikap terbaik dalam menghadapi film seperti Fitna?

Apakah cara menghadapi propaganda serupa itu adalah dengan pencekalan dan pelarangan? Atau dengan melawannya dengan serbuan produk budaya (karena film adalah produk budaya) yang menihilkan propaganda negatif itu?

Film Ayat ayat Cinta yang menjadi fenomena di Indonesia kabarnya akan dibuat versi internasionalnya. Jika terwujud, mungkin ini bisa menjadi alternatif dalam upaya menghadapi propaganda negatif terhadap Islam. Maka mata dibayar dengan mata. Film dengan pesan negatif dibalas dengan film dengan pesan positif.

Bagaimana menurut anda?