Belum lama ini saya berkesempatan menghadiri European Day of Languages 2026 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Kampusnya cukup luas juga ternyata. Beberapa bagian sedang direnovasi.
Sebagai seseorang yang punya ketertarikan pada bahasa, acara ini sangat menarik perhatian saya. Lagi pula ternyata bisa sekalian menyegarkan kenangan masa-masa studi di Eropa, di mana keberagaman bahasa adalah kenyataan yang dihadapi setiap hari.
Setiap meja perwakilan negara senantiasa dipenuhi para pengunjung yang antusias mengenal dan mempelajari bahasa serta hal terkait seperti budaya.
Meja pertama yang saya sambangi adalah Georgia. Saya tertarik dengan keindahan aksaranya yang seperti mantra, yang ternyata punya tiga variasi bentuk. Salah seorang perwakilan lalu menuliskan nama saya dalam aksara Georgia. Selain bahasa, budaya dan negaranya juga dibahas.
Meja kedua saya beralih ke Rumania. Ibu di sana mengambil pendekatan memperkenalkan alfabet Rumania serta cara pelafalannya.
Berikutnya saya ke meja Italia. Saya mereset ulang kemampuan bahasa Italia saya lalu berlatih menyebutkan nama dan usia saya.
Finlandia mengambil pendekatan yang agak berbeda. Mereka menyajikan daftar kata-kata Finlandia yang sama tapi maknanya berbeda dengan bahasa Indonesia. Perempuan yang berjaga di sana ternyata seorang linguis, jadi ada sempat asupan ilmiah tentang bahasa ini.
Di Swedia saya sedikit memamerkan kemampuan saya dengan menjawab dalam bahasa Viking ini. Budaya Swedia juga diperkenalkan di sini seperti kebiasaan Fika dan beberapa kue khas Swedia seperti Semla.
Meja Portugal mengajak pengunjung mengenal tokoh-tokoh Portugal. Tentunya ada tokoh yang kita kenal melalui pelajaran sejarah seperti Ferdinand Magellan dan Afonso de Albuquerque. Baru tahu Nelly Furtado dari Portugal.
Setiap meja bukan cuma memamerkan brosur atau suvenir, tapi para penjaganya sangat interaktif mengajak pengunjung berkenalan, belajar sapaan lokal, hingga memahami keunikan linguistik negara mereka. Meski tiap meja punya pendekatan berbeda, semuanya berhasil merangkul pengunjung untuk mengenal lebih dalam bahasanya masing-masing.
Puncak keseruan sore itu ditutup dengan kuis interaktif menggunakan Kahoot yang menguji wawasan seputar bahasa-bahasa di dunia, geografi, dan keunikan budaya Eropa. Jari-jari harus bergerak cepat memilih jawaban di layar ponsel sambil berkejaran dengan peserta lain. Begitu skor akhir dihitung, voila! Saya berhasil finish di urutan ke-4 dan dihadiahi suvenir dari panitia. Lumayan, pembuktian kalau otak masih encer buat urusan trivia bahasa!
Beberapa negara punya bahasa lokalnya sendiri seperti Katalan atau Basque. Sayangnya saya malah tidak mampir ke meja Spanyol.
Alangkah menarik jika ada even yang memfasilitasi berbagai bahasa dunia. Tapi siapa yang bisa menyelenggarakannya ya? Kemendikbud? Kemenlu?
Sampai jumpa tahun depan. Arrivederci, hej då!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar