26 Maret 2019

Perban Luka Bakar Bak Aquaman



Nile Tilapia (Oreochromisniloticus) adalah ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Amerika Latin. Kulit ikan ini biasanya tidak dimakan dan dibuang. Namun ternyata kulit Tilapia kaya dengan serat kolagen tipe I dan III sehingga memiliki kelembaban dan ketahanan terhadap penyakit serupa dengan kulit manusia. Sumber kolagen selama ini berasal dari hewan ternak seperti sapi atau babi, namun beberapa alasan kultural atau religi dapat menjadi hambatan dalam pemanfaatan di bidang farmasi.
Para peneliti di Brazil telah mengembangkan perban dari kulit ikan Tilapia yang disterilisasi untuk luka bakar tingkat dua dan tiga, dan sedang menjalani uji klinis dengan setidaknya 56 pasien. (Journal of the Pakistan Medical Association, December 2017).


Selain lebih murah 75% dari alternatif lain, perban kulit Talipia dapat bertahan selama sekitar 10 hari dan mengelupas dengan mudah sesudahnya sehingga tidak perlu sering diganti. Dibandingkan dengan perban gauze dan silver sulfadiazine yang harus diganti setiap hari. Satu keunggulan terapi kuratif alternatif ini adalah mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman dari pasien. Serat nano kolagen tilapia dapat memberi efek percepatan penyembuhan luka kulit pada tikus dengan meningkatkan adhesi sel proliferasi dan diferensiasi.

23 Februari 2019

Kisah dari Bumi Rafflesia


Hari ini, 96 tahun yang lalu, Fatmawati, Ibu Negara Indonesia yang pertama, juga yang menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih lahir pada tanggal 23 Februari 1923. Tanggal yang sama ketika Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal dengan nama Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah, meninggal dunia.

Ini kunjungan saya yang kedua ke Rumah Fatmawati, ketika itu tahun 2013, saya hanya sempat mengambil gambar di depan rumah karena suasana telah gelap saat saya tiba. Enam tahun kemudian saya berkesempatan mengunjungi tempat ini kembali dan masuk ke dalamnya.

Banyak foto-foto Fatmawati dalam berbagai kesempatan, juga ada potongan puisi. Dan yang paling penting, mesin jahit yang digunakan untuk menjahit bendera pusaka.

Selain Rumah Fatmawati, saya kembali mengunjungi Benteng Marlborough, dan kali ini, tidak hanya berfoto di depan benteng, tapi juga menjelajahi isi benteng. Layaknya sebuah museum yang merekam tentang masa penjajahan Inggris di Bengkulu. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan di sini.

Tempat ketiga yang saya kunjungi kedua kalinya adalah rumah pengasingan Bung Karno. Sebelumnya saya sudah pernah masuk ke dalamnya, jadi ini adalah kunjungan nostalgia. Hanya saja saya merasa layoutnya agak berbeda dibanding kunjungan saya sebelumnya.

Banyak sejarah tersimpan di Bengkulu, banyak juga kisah menarik, misalnya tentang asal-usul Danau Dendam Tak Sudah (bagaimana buaya asal Lampung bisa diketahui? Apakah ia memiliki KTP?). 

Mungkin juga, tak cuma kisah masa lalu yang ada di sini. Boleh jadi, ada di antara kalian, yang tengah merangkai kisah masa depannya di sini, di bumi Rafflesia.




31 Desember 2018

Tahun Perpisahan

Jikalah bisa diringkas, barangkali kata yang tepat untuk mewakili tahun ini adalah perpisahan.

Teman, sahabat, rekan, kerabat. Kabar beruntun yang menyadarkan bahwa kematian senantiasa demikian dekat.

Perpisahan terkadang berupa kematian atau semata kepergian satu dua orang menuju tempat yang lebih tinggi. Semoga dalam rangka mengabdi dan menebar sebanyak-banyaknya manfaat.

Tahun ini menggerakkan kembali jemari untuk menuliskan gagasan melalui berbagai media.

Maka saya berharap untuk berpisah. Berpisah dengan diri yang kerap iri dan bangga diri. Berpisah dengan keraguan, kemalasan, ketakutan untuk meniti jalan panjang perbaikan diri.